Sunday, March 04, 2007

Untuk laki-laki!!


UNTUK LELAKI: PERSIAPAN SEBELUM MENIKAH

Oleh: Akmal
http://akmal.multiply.com/journal/item/169

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Kebanyakan orang yang menyatakan dirinya ‘belum siap menikah’ menjadikan penghasilan sebagai alasan dari ketidaksiapannya. Karena merasa belum mapan dan belum bisa menanggung kehidupan keluarga, maka ia merasa belum mampu untuk menikah. Menariknya, kebanyakan orang yang menyatakan dirinya ‘siap nikah’ pun ternyata menjadikan penghasilan sebagai alasan dari keyakinannya. Ia sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang bagus, dan karenanya ia merasa yakin telah mampu berkeluarga.

Siap atau tidak siap itu sangat relatif. Yang menarik adalah bagaimana sebagian umat Islam menjadikan faktor finansial sebagai acuan bagi kesiapan menikah. Tentu ada benarnya pendapat yang mengatakan bahwa faktor ini bisa mempengaruhi kesiapan menikah, terutama bagi laki-laki. Tapi tidak tepat juga kalau dikatakan bahwa hanya faktor inilah yang menentukan kesiapan tersebut.

“Kamu sudah siap menikah?”

“Insya Allah siap. Alhamdulillaah sekarang saya sudah punya pekerjaan tetap dan saya rasa gajinya mencukupi untuk keperluan sehari-hari keluarga.”

“Apa yang akan kamu lakukan dengan anak dan istrimu nanti?”

Biasanya dialog akan terhenti di sini karena yang ditanya merasa pertanyaannya kurang jelas. Sebenarnya pertanyaan ini cukup sederhana saja. Pertanyaannya : apa yang akan kita perbuat dengan anak-istri kita? Pertanyaan ini perlu diajukan untuk menyelidiki visi seseorang tentang sebuah pernikahan.

Gerangan apakah pernikahan itu? Apakah sekedar memilih pasangan hidup yang tampan dan cantik? Apakah sekedar pelarian untuk memuaskan kebutuhan biologis? Apakah sekedar untuk mencari teman curhat permanen? Atau sekedar coba-coba? Semua itu bisa dijawab kalau kita memiliki sebuah visi yang jelas perihal pernikahan. Sebagai seorang pemimpin dalam keluarga, maka laki-laki dituntut untuk memiliki visi yang jelas.

Dalam Islam, keluarga bisa membawa manusia kepada dua ekstrem. Jika kita membina keluarga dengan baik dan semua anggota keluarga tersebut menjadi saleh, maka sudah pasti surga akan menjadi tempat berkumpul keluarga kita kelak. Sebaliknya, kalau kita rajin melaksanakan amal-amal saleh pribadi namun mengabaikan keadaan anak-istri kita, maka bisa jadi kita akan ikut diseretnya ke neraka. Kita berdoa semoga seluruh anggota keluarga kita bisa saling tarik menuju surga.

Sekarang, masalahnya jauh lebih kompleks daripada sekedar penghasilan. Seorang laki-laki harus sadar bahwa melangkah kepada pernikahan berarti membebani dirinya sendiri dengan sebuah tanggung jawab yang besar, yaitu tanggung jawab pendidikan. Ia wajib memikirkan dengan serius tentang kemampuannya mendidik anak-istrinya kelak. Otomatis, ia pun harus memikirkan keadaan dirinya terlebih dahulu. Bagaimana mungkin orang yang tidak terdidik bisa mendidik orang lain?

Jadi, masalah pertama yang harus dipikirkan adalah keadaan diri sendiri. Sudahkah kita menjadi laki-laki yang saleh? Sudahkah kita terbiasa melakukan shalat berjamaah? Sudahkah kita membaca Al-Qur’an secara teratur setiap harinya dengan bacaan yang baik? Sudahkah kita membiasakan tersenyum dan bertutur kata sopan dengan orang lain? Sudahkah kita melaksanakan shalat malam secara rutin? Sudahkah kita memahami ajaran-ajaran Islam? Sudahkah kita mengenal Allah dengan baik?

Kedengaran berlebihan? Tentu saja tidak. Ketika kita membesarkan anak, maka kita harus paham bahwa pengajaran agama sepenuhnya adalah tanggung jawab kita, bukan sekolah. Sudah banyak bukti bahwa pelajaran agama Islam di sekolah sangat jauh dari cukup. Jangan merasa siap menjadi orang tua jika belum siap menjadi pendidik!

Bagaimana dengan istri? Justru masalah inilah yang harus dipikirkan terlebih dahulu, karena istri (tentu saja) hadir lebih dulu daripada anak. Bagaimana cara mendidik istri? Sudahkah kita memahami keadaan psikologis perempuan (yang jelas berbeda dengan laki-laki)? Sudahkah kita memahami kecenderungan-kecenderungan mereka? Sudahkah kita membuat rencana bagaimana harus mendidik istri? Sudahkah kita merencanakan untuk membiasakan shalat malam berjamaah? Sudahkah kita berpikir bagaimana mencegahnya agar tidak ikut-ikutan bergabung dalam forum gosip tetangga? Sederet pertanyaan lainnya akan segera bermunculan jika kita membuka pikiran kita, insya Allah.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakuti saudara-saudara yang telah siap menikah. Justru saya berharap mereka yang akan segera menikah segera mengevaluasi lagi kesiapannya dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan sebelum hari ‘H’ itu tiba. Laki-laki yang siap menikah juga harus siap menjadi kepala keluarga, pembuat keputusan, pendidik, pemimpin, pemberi rasa aman, suri tauladan, suami dan ayah yang baik. Adapun bagi mereka yang belum siap, hanya ada satu kata : Siapkanlah!




Tuesday, January 30, 2007

I want to be beautiful now and to the future!


But, how?
Just remember this:

Make-Up Muslimah

Agar tari tampak lebih cantik dan menarik, lakukanlah resep berikut:

  • Jadikanlah ghadhul bashar (menundukkan pandangan) sebagai hiasan kedua matamu, niscaya akan semakin bening dan jernih
  • Oleskan lipstick kejujuran pada bibirmu, niscaya semakin manis
  • Gunakan pemerah pipimu dengan kosmetika yang terbuat dari rasa malu
  • Pakailah sabun istighfar untuk menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang kau lakukan
  • Rawatlah rambutmu dengan jilbab islami yang akan menghilangkan ketombe pandangan laki-laki asing yang membahayakan
  • Pakailah giwang kesopanan pada kedua belah telingamu
  • Hiaslah kedua tanganmu dengan gelang tawadhu dan jari-jarimu dengan cincin persahabatan. Sebaik-baik kalung yang kau pakai adalah kalung kesucian
So? Do it now... bersemangat!

Thursday, January 04, 2007

Can I do this?

Famay-ya'mal mitsqaala dzarratin khairay yarah
Wa may-ya'mal mitsqaala dzar-ratin syarray yarah

'Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula. (QS. Al Zalzalah 7-8)

Subhanallah, maha suci Allah akan semua sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang agung. Betapa Allah swt maha adil akan hisabnya, tiada penganiayaan dan tiada pengurangan bagi amal seseorang, tiada pilih kasih dan tidak ada perantara.

Sepulang dari workshop hari pertama, banyak bekal pencerahan untuk menghadapi semester II tahun ajaran 2006-2007. Tema sentral pelatihan kali ini adalah tentang Pembentukan Karakter Melalui Pembelajaran Kebajikan. Terkait dengan ayat 7 - 8 dari surat Al Zalzalah ternyata guru juga perlu bersikap arif terhadap siswa/i dengan menekankan model kebajikan dari dirinya dan bagi peserta didik. Betapa dari benih yang baik insya Allah kemudian dituang diladang yang baik juga akan menghasilkan jundullah yang berkualitas. Intinya, guru harus bersikap netral dan tidak pilih kasih dalam memenuhi tugas dan kewajibannya dalam mengajar. Harus sering memaknai nama Allah swt sebagai Dzat yang Maha Adil. Hal yang paling sering terjadi adalah murid yang kurang bisa memenuhi aspek kognitif pada suatu bidang studi tertentu biasanya menjadi tidak favorit buat sang guru dan kemudian diabaikan, akibatnya dalam diri murid tersebut terbentuk suatu nilai bahwa ia memang pecundang dan akan selamanya begitu, padahal jika guru bisa bersikap arif dan berbuat kebajikan sudah pasti ada sisi positif dari murid itu yang bisa diangkat untuk melengkapi kelemahannya.

Menarik sekali kisah yang disampaikan trainer tentang pengalamannya dengan seorang siswa yang sering dicap 'bandel' oleh guru-guru. Sebut saja namanya Dimas. Ketika suatu kali Dimas sengaja tidak merapihkan pakaiannya, seorang guru datang padanya dan mengingatkannya untuk segera merapihkan. Dimas menjawab dengan santai bahwa ia adalah anak bandel yang pasti tidak akan memenuhi kriteria siswa baik dari guru jadi tidak perlu mengerjakan berpakaian rapi.Si guru tidak serta merta kebakaran jenggot dengan tanggapan dimas, ia malah menyampaikan beberapa hal yang membuat Dimas merubah pola pikirnya pada akhirnya.

Kira-kira kalau dapat dilukiskan, maka dialog yang terjadi berikutnya antara si guru dengan Dimas adalah sebgaai berikut:
Guru itu bertanya, 'Mas, kamu datang telat hari ini?'
Dimas, 'Tidak, pak'
Guru, 'Itu satu poin kebaikan dari kamu, tepat waktu. Coba lihat, apakah seragammu sesuai dengan peraturan sekolah kita hari ini?
Dimas memperhatikan seragam yang ia kenakan, 'Iya, pak. Putih-hijau, sesuai pak!'
Guru, 'Bagus, itu sudah dua poin kebaikan dari kamu. Apa tadi kamu tilawah qur'an pagi tadi sebelum memulai pelajaran?'
Dimas, 'Iyalah, pasti dong'
Guru, 'Ok, that makes three. Coba baru begitu saja sudah ada tiga kebaikan dari kamu, satu yang kurang, kamu belum merapihkan bajumu. Coba dirapikan dulu, nak.'
Dimas, 'eh, iya, pak. Jadi saya sebenarnya bisa banyak berbuat baik ya, pak.'
Guru, 'Tentu saja, coba kumpulkan lebih banyak lagi'

Jelas pada akhir dialog bahwa penilaian negatif Dimas akan dirinya sendiri menjadi hilang karena kebajikan sang guru dalam memunculkan hal-hal positif dari muridnya itu, dan yang diharapkan dengan adanya perubahan baik dari si anak tentu saja tercipta. Lalu apalagi? Sa'atnya kita menuang kebajikan untuk membentuk karakter anak-anak didik, di rumah ataupun di lembaga pengajaran.

dari Steven Covey untuk selalu diingat:

Taburlah GAGASAN, petiklah PERBUATAN
Taburlah PERBUATAN, petiklah KEBIASAAN
Taburlah KEBIASAAN, petiklah KARAKTER
Taburlah KARAKTER, maka petiklah HASIL

Tari, sudahkah kamu menabur kebajikanmu hari ini?

Wassalam

Monday, December 18, 2006

khitbah itu

Subhanallah... deg deg...

Akhirnya detik itu datang juga. Sa'at-sa'at seorang manusia sudah diperhitungkan untuk menunaikan amanah dan janji yang insya Allah diridhai.

Dikhitbah, untuk nantinya menikah...
Suatu prosesi besar, dalam majlis yang amat disukai Allah dalam kesederhanaan dan ketulusan.
Syaithan amat membenci hal ini, semoga Allah senantiasa melindungi kami.

Harapan yang terpatri hanya satu, semoga aku dan kak andri bisa menjadi lebih baik dari hari kehari dalam mencari ridha Allah sehingga pada saatnya nanti berkah Allah juga datang berlimpah. Amin ya rabbal alamin, insya Allah.

Monday, July 03, 2006

IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA

Bismillahirrahmanirahim,

Alhamdulillah, aku bisa punya blog setelah sekian lama terkungkung dalam bayangan ke gaptek-an ku yang membuat aku malu bertanya tentang membuat blog sendiri. Insya Allah akan senantiasa ku perbarui, dan mudah-mudaha bisa terisi dengan yang bermanfa'at. Amiiin.